WELCOME TO MY BLOG

"SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA, SEMOGA BLOG INI BERMANFAAT BAGI ANDA"


Sabtu, 30 Juni 2012

PENDEKATAN PENELITIAN ETNOMUSIKOLOGI



Oleh:
  WisnuWirandi

Mnimalnya terdapat  dua  bentuk kegiatan utama  yang selalu dikerjakan oleh  para  etnomusikolog ketika mereka  berkarya.  Kedua kegiatan ini, yaitu kerja  lapangan (field work) dan kerja  laboratorium (desk work).  Bentuk  kegiatan  ini selalu berkiprah pada upaya untuk  mengerti, memahami, dan  menggali  tradisi  musik yang tersebar di  dunia. Berlangsungnya proses  ini perlu dilakukan pengkajian dan analisis terlebih  dahulu, guna menggali konsep-konsep dan nilai-nilai yangterdapat  pada tradisi.
Kerja lapangan (field workd) menyangkut setiap upaya  yang dilakukan dilapangan, meliputi: perekaman  musik, pemotretan, wawancara, observasi, pendokumentasian audio visual, dll.  Pekerjaan ini tentunya menuntut  keahlian khusus untuk  menguasai teknik-teknik dan keahlian menyeleksi  nara  sumber dan mendekati para  informan, sebab tak jarang  para  informan merasa  enggan memberi informasi  yang  sebenarnya. Adapun  kerja laboratorium (desk work) meliputi: mengolah  data, mentranskripsi musik, menganalisis data, dan menyusun laporan.
Tiga  pendekatan yang  biasa dipakai  oleh para  etnomusikolog ketika  mereka  melakukan  penelitian  musik  tradisi,  diantaranya: 
Pendekatan Bymusicality, 
Emik dan etik
- model penelitian Alan P. Merriam.
1.  Pendekatan Bymusicality
           Tidak  jauh  berbeda  dengan  bidang ilmu  antropologi,  bahwa  etnomusikologi pada mulanya  dipelopori  oleh para  penjajah, misionaris, dan  para  penjajah   yang  tertarik  pada bidang  musik. Menurut sebagian  para  antropolog, bahwa  bidang musik  tak bisa  dilupakan  dalam  mempelajari  budaya  suatau  bangsa. Maka  besarnya pengaruh  antropologi  dalam  etnomusikologi, makin  mendekatnya etnomusikologi  pada analisis  cultural  dan  makin  besar pula  pada kritik etnosentrisme Barat.  Sehingga  jika sebelumnya banyak orang  percaya  bahwa  musik itu  bisa  dikenali  secara  universal, dan  banyak  orang yang  menumbuhkan  teori-teori  universal. Setelah  itu  orang lebih  mencarai  ciri-ciri  spesifiknya dari  setiap  tradisi musik.  Anggapan  dasarnya  adalah  suata  tradisi  atau  kebudayaan  tak  bisa  dinilai  dengan  kaca  mata  tradisi  lain. 
                  Metode participant observation   di lapangan yang dipelopori  oleh  Franz Boas dan kemudian malinowsky dalam  antropologi  menjadi  kepercayaan   besar  dalam disiplin  etnomusikologi.Pendekatan  ini  adalah  si peneliti  berusaha  terjun  langsung  kelapangan   dan ikut  berperan  aktif  dengan  masyarakat kebudayaan   yang  ditelitinya sambil  ikut  belajar  memainkan alat  musiknya. Sipeneliti  berusaha   luluh  dengan  masyarakat  yang  ditelitinya untuk  bisa  mengerti  sedalam  mungkin  mengenai apa  yang  dipelajarinya itu.  Bahkan  lebih  jauh  lagi,  si peneliti berusaha  menjadi  orang  pribumi. Maka  dengan ini,  dalam  etnomusikologi muncul pula pendekatan yang  serupa dinamakan  Bimusicality. Konsep  ini  diajukan  oleh Mantle Hood (1971). Pada  dasarnya  pendekatan  bimusikality  mengacu  pada  pendekatan  participant observation.
2. Pendekatan Emik dan Etik
             Kesahihan  suatu  data menjadi  pertimbangan utama di  dalam  melakukan  penelitian. Berbagai  metode dan  teknik  lapangan telah  diupayakan untuk memperoleh  data yang dipandang  memiliki  tingkat  kebenaran  yang logis.  Kaitannnya  dengan  penelitian  etnomusikologi,  pendekatan  yang  bersifat  antropologis telah  dimamfaatkan  oleh  para  etnomusikolog dalam  memperoleh  data yang  dapat  menambah  pengertian  terhadap penomena  musical. Pendekatan secara  emik  dan  etik sudah  mulai  dipakai oleh  sebagaian  para  etnomusikolog.  Kedua  pendekatan  ini  berasal   dari  disiplin  ilmu antropologi  yang  diambil  dari  cabang  ilmu  linguistic oleh  seorang  antropolog yang  bernama  Keneth Pike (1954).  Pike  mendefinisikan  pendekatan  emik  sebagai  berikut: Pendekatan emik  pada dasarnya hanya  palid  pada  sebuah  kebudayaan  pada  suatu  waktu tertentu.  Pendekatan  ini berusaha  untuk  menemukan  dan  mendeskripsikan  pola  kebudayaan  tertentu  yang  mengacu  kepada  cara dimana elemen-elemen  dari  kebudayaan  tersebut masing-masing  saling  berhubungan  dalam  hal  mengfungsikan  pola  tertentu, dari  pada  sebuah  usaha untuk  mendeskripsikan  mereka  dengan  mengacu  kepada sebuah  klasifikasi general  melalui studio yang  sebelumnya dilakukan  terhadap  kebudayaan  tersebut. Metode primer  pendekatan  emik (melihat emik  secara cultural) adalah  dengan melakukan  wawancara insentiv  dan sistematis kepada  beberapa  nara sumber  melalui bahasa  asli  mereka. Definisi-definisi   yang  dibuat  oleh  ahli waris budaya  terhadap  sistem-sistem makna  dan  gagasan dilihat  sebagai  penyebab terjadinya perilaku  yang  paling  penting. Dengan kata    lain,  penekanan pada pendekatan  ini adalah   dengan menghindarkan  pembebanan  terhadap  katagori-katagori deskriptif  yang secara   cultural  telah dikondisikan  oleh situasi  lingkungan  budaya dari  sipengamat  terhadap dunia kognitif si  nara  sumber.
           Pendekatan Emik. ahli emik  menempatkan emik kebudayaan pada inti  kegiatan penelitian    mereka  dan  percaya  bahwa  mereka  dapat menguraikan  dunia   kognitif  dari  ahli  waris  budaya, system  prilaku,  dan struktur-struktur  social,  melalui  penelitian  mereka  terhadap  hubungan  timbal  balik  dari emik. Kemudian   dalam memilih  nara  sumber, para  ahli emik sepakat  untuk memakai  orang  yang  dipandang  memiliki  otoritas diwilayah  kebudayaan  tersebut untuk  dijadikan  sebagai   nara  sumber. Selanjutnya, para   ahli  berasumsi bahwa  kategorisasi  dari   ahli  waris   budaya  adalah  satu-satunya   yang benar, dan  pada saat  bersamaan mereka  beranggapan  bahwa  semua  atau  sebagaian   besar  anggota  masyarakat  yang diteliti  mengetahui  sistem  taxonominya.  Secara  ringkas,  kesimpulan  dari  pendekatan  emik  adalah  bahwa  si peneliti  menempatkan   diri  sebagai  insider (orang  dalam)  yang  sangat percaya  terhadap informasi  verbal yang disampaikan  oleh   nara sumbernya. Sehingga  dunia  kognitif yang berasal  dari latar  belakang lingkungan  budaya  si  peneliti  kurang  memberi  pengaruh   terhadap  kerja  analisisnya.
Pendekatan etik.   Berbeda dengan pendekatan emik,  pendekatan etik berorentasi pada  pengamatan  terhadap perilaku manusia. Keneth Pike mendefinisikan  pendekatan etik sebagai  berikut: 
Pijakan  dasar  dari pendekatan  analisis etik juga dapat  disebut “eksternal” atau “asing” disebabkan  oleh  tujuan  etik (yang menempatkan) si penganalis berada “jauh sekali”  atau  (sebagai orang) di luar sebuah  kebudayaan  tertentu  untuk melihat kegiatan-kegiatan  di dalam kebudayaan  tersebut  secara  terpisah, terutama  hubungannnya dengan persamaan-persamaan  dan perbedaaan-perbedaan (yang terjadi  dari) kegiatan  mereka, yang dimamfaatkan sebagai  pembanding  terhadap  peristiwa-peristiwa di dalam kebudayaan  tertentu. Didalam pendekatan  etik, deskripsi verbal para pelaku  dipandang  sebagai sumber  informasi  yang   bermamfaat sebagai  bahan  acuan  daripada sebagai pembuktian  perilaku  actual.
Pendekatan Etik
*      Ditinjau secara umum, pendekatan etik adalah  pengamatan terhadap  perilaku  manusia secara  intensif,  dan mencari pola-pola perilaku seperti yang didepinisikan oleh peneliti. Hal ini  merupakan  kebalikan  dari (pandangan)  para  ahli emik  yang menempatkan tindakan-tindakan  berada  di atas factor-faktor  konseptual dan verbal.
*      Ahli etik berpandangan  bahwa  pentingnya sistem-sistem  gagasan, ideology, dan sistem  kepercayaan  memang  tidak  dapat ditolak,  namun setiap deskkripsi  yang memadai  dari perilaku cultural  manusia  juga  secara  hati-hati  harus memperhatikan  factor-faktor non bahasa, seperti:  keadaan material,  hubungan social,  dan peralatan teknologi sebagai   bagian  dari kerangka  acuan yang dapat memberi keterangan.

*      Di  dalam pendekatan  etik  factor-faktor non  manusia,  non pikiran,  khususnya kondisi-kondisi material  dianggap  sebagai penggerak  penting   dari tindakan  manusia. 
*      Secara  ekstrim, Haris  (yang  menganut pendekatan etik) mengesampingkan katagori  kognitif para  ahli  waris  budaya  di dalam studi  kebudayaan, dan  hanya menganalisis perilaku.
Pendekatan  Etik
*      Untuk menganalisis secara sempurna  dalam pendekatan  etik,  prilaku  manusia  harus  dianalisis  tidak  dengan menelusuri konsep dari sistem makna, tetapi dengan  melakukan  pengamatan  terhadap  kegiatan  secara  keseluruhan.
*      Proyek kerja seperti ini, sebaliknya,  memerlukan  komitmen waktu  yang sangat banyak. Sebagai  contoh,  sejumlah   peneliti   harus  memasang  kamera-kamera  video di  lapangan, merekam objek-objek penelitian  yang  diseleksi setiap  harinya  hingga  mencapai  beratus-ratus   jam,  dan setelah  itu  secara  intensif melakukan  pengamatan  dan penganalisisan pada  hasil  rekaman  video itu.
*      Pendekatan  tersebut (emik dan etik) masing-masing memiliki  kelemahan. Pendekatan  emik  dikritik karena  terdapat  kelemahan dalam  metodologinya. 
*      Sedangkan  pendekatan   etik  terlalu  banyak  memakan  waktu  dan biaya   yang  sangat  besar.  Pada  kenyataannnya,  sejumlah  para  peneliti   banyak  yang  telah  melakukan  pendekatan  gabungan   dari emik  dan  etik.  Kategori-kategori deskriptif  dari emik  dibutuhkan  pada  konsep etik,  kemudian   akumulasi  serta  sistematika   etik dikombinasikan  pula  untuk  digunakan  sebagai   alat  dalam  mendeskripsikan dan membandingkan   bentuk-bentuk  kebudayaan.
Gabungan Emik dan Etik
*      Kecocokan  etik   sebagai  suatu  tipologi  ditentukan   oleh  kemampuannya untuk  mendeskripsikan semua  emik  dari  setiap  kebudayaan dengan lebih  memuaskan.
*      Pendekatan    emik  bergantung  pada kemampuan   keefektipan  deskripsi  dari  etik dan tingkatan  dari sistematisasi   atau  susunan-susunannya.
*      Ditinjau  dari  sudut lain,  sebuah  deskripsi  emik  secara mendasar  harus menunjukan  karakter-karakter   etik.   Mana  yang  secara  lokal dipandang  penting, dan  demikian  sebaliknya. 
*      Semakin  diketahui  etik  dari sebuah  kebudayaan,  maka semakin  mudah tugas  analisis para  ahli  etnosain,  dan  bila etik  tidak  diserta   dengan  sumbangan  emik  yang  cuklup  baik, maka  ia  akan  macet  di dalam pembedaan  yang   terlalu  kecil  yang  tidak  bermamfaat , serta  mendahulukan   kerja secara  berlebihan  melalui peralatan  perekaman.
3. Model penelitian Alan P. Merriam
*      Model penelitian  yang  dilajukan  Merriam  telah memberikan   sumbangan besar pada disiplin  etnomusikologi. Sebagian  besar  para  peneliti  telah  memamfaatkan  model ini  sebagai  acuan  di  dalam melakukan  penelitiannya.  Demikian  pula, pro dan kontra  terhadap  model penelitian  ini telah  membuat  kehangatan ditengah-tengah perbincangan  para  etnomusikolog.
*      Anggapan  dasarnya  dalam  model penelitian ini  adalah  bahwa bunyi musik  harus  dipandang  sebagai  suatu  hasil  perilaku  manusia.  Sementara,  perilaku  itu  sendiri  dilandasi oleh  konsep-konsep  yang  melatar  belakanginya.
*      Model  ini  Merriam mengajukan tiga  tingkatan  yang terdiri atas:
*      (1) konsep - konsep  mengenai  musik;
*      (2) tingkah  laku  (para  pemain  musik/pendengar) ;
*      (3) bunyi  musik  itu sendiri.
 
*      Ketiga tingkatan  ini merupakan  satu  kesatuan  yang  satu sama  lain tidak  bisa  dipisahkan.  Hasil  bunyi  musik   tak  terpisahkan  dari  perilaku  manusia  yang  menghasilkannnya.  Secara  praktis,  perilaku  tak  bisa  dibedakan dari  konsep-konsep yang  melandasinya. Ketiga tingkatan ini  diikat  erat oleh  proses  umpan balik  dimana   hasil  bunyi musik kembali  mempengaruhi  konsep.

KONSEP MUSIK
                  Tingkatan  pertama (konsep-konsep musik)  dan ketiga (bunyi musik)  dihubungkan  dalam  model  untuk dapat  menerangkan  sifat  dinamis  dan perubahan –perubahan  yang  selalu  terjadi  pada  semua   tradisi  musik.  Tingkatan  ketiga  (bunyi musik)  tentu  saja  memiliki struktur,   dan mungkin  saja  merupakan  suatu  system,  namun ia  tidak  dapat  berdiri sendiri,  atau  terpisah dari  orang-orang (yang menyanyi/bermain  musik  ataupun orang-orang  yang  mendengarkannnya).  
          Sedangkan  tingkatan pertama (konsep-konsep musik)  adalah  suatu  landasan  bagi seseorang  untuk berprilaku.  Pangkal  perilaku   adalah  konsep, untuk  bergerak  didalam  system musik, orang  harus  mempunyai  konsep  terlebih  dahulu mengenai  perilaku  apa   yang akan  menghasilkan   bunyi  seperti  yang  diinginkan.  Maka  tingkatan  pertama  ini   tidak  hanya  mencakup  konsep-konsep  tentang perilaku  jasmani, perilaku  social,  dan perilaku  verbal,  tetapi  juga  konsep-konsep  tentang  “apa itu musik”  dan  musik sebaiknya  sepertio  apa,  konsep-konsep   mengenai perbedaan    antara  musik  dan   suara  rebut,  konsep  mengenai  sumber-sumber  musik;  konsep  mengenai  asal  bakat musik seseorang, konsep mengenai jumlah  orang  yang optimal dalam  suatu  kelompk  bernyanyi;  dan sikap semangat  terpuji untuk  anggota  kelompok  bernyanyi.
PERILAKU MUSIK
  • Pada  tingkatan  kedua (prilaku pemusik/pendengar), Merriam membaginya  kedalam  tiga  bagian (1)  perilaku  fisik /jasmani; (2)  perilaku  social, dan (3)  perilaku  verbal.
  • Perilaku  fisik  jasmani mencakup  gerak-gerik  yang dipakai  untuk memainkan alat  musik (atau  menyanyi);  sikap badan  dan ketegangan  otot-otot  yang dilakukan  dalam  memainkan alat  musik  atau  bernyanyi;  dan reaksi  jasmani   yang  muncul  dalam  badan pendengar  musik.
 
  • Perilaku  social   mencakup perilaku   yang diharapkan   dari  seorang pemusik (menurut  adat kebiasaan setempat)  sesuai  dengan stattusnya  sebagai  pemusik; dan perilaku   yang diharapkan  dari seorang pendengar/penonton pada  suatu  acara dimana  musik  dibunyikkan.

  • Sedangkan  perilaku verbal  adalah  perkataan mengenai  musik.
BUNYI  MUSIK
*      Perlu dicatat  bahwa hasil  bunyi  musik  tersebut  kemudian  akan  didengar  oleh  seseorang  yang akan menilai  kemampuan penyanyi/pemusik dan benar tidaknya  penyanyinya  menurut norma-norma  dan nilai-nilai  tertentu. 
*      Apabila penyanyi/pemusik  ataupun pendengar  menganggap bahwa sebuah penyajian  musik  tertentu  berhasil menurut  norma dan persyaratan   yang  ada  pada  kebudayaan  itu, jelaslah bahwa kemantapan   konsep-konsep  (nilai-nilai tersebut)  diperkuat  lagi (dalam bathin sipenyanyi/pemusik). 
*      Konsep (nilai)  tersebut  pasti  akan  ditetapkan  lagi (oleh penyanyi/pemusik)  unutk membuahkan   perilaku  yang  akan menghasilkan  bunyi  musik  lagi.
*      Kalau  penyajian  musik  tersebut   dianggap  tidak  berhasil (oleh  pendengar),  maka konsep=konsep  (penyanyi/pemusik)  harus  diubah  agar  dapat  membuahkan perilaku    yang  akan  menghasilkan  bunyi yang  lebih  sesuai  dengan perilaku  kebudayaan itu  terhadap  musik.
*      Dengan demikian,  terjadilah  proses umpan  balik,  dari  hasil  bunyi  musik  kembali  kekonsep-konsep  mengenai  musik.  Proses ini (terasa  dalam pengalaman  seseorang)   sebagai proses belajar,  baik  bagi pemusik  maupun   orang  awam.  Proses  ini  berlanjut tanpa  berhenti,  dan proses  inilah   yang  dapat  menerangkan gejala  perubahan  ataupun stabilitas dalam sebuah  tradisi  musik.

Makalah Pengetahuan Karawitan





Oleh
WISNU WIRANDI
Jurusan Karawitan
            NIM. 0922203                   



S E K O L A H   T I N G G I   S E N I   I N D O N E S I A
( S T S I )
B   A   N   D   U   N   G
TAHUN AJARAN 2009-2010





PENGETAHUAN KARAWITAN

A.    Istilah kawawitan
Kebudayaan daerah berfungsi sebagai pembentuk kebudayan nasional. Kita pun tahu salah satu bagian dari kebudayaan diantaranya kesekian. Karena itulah, dapat ditarik kesimpulan bahwa kesenian daerah merupakan unsure penting dalam pembentukan kesenian nasional Indonesia. Antara kesenian daerah disatu pihak dan kesenian Nasional di pihak lain tidak berdiri berhadpan dan saling menyaingi, tapi justru merupakan dua unsur yang harmonis.
Berbicara kesenian daerah, maka kita akan berbicara tentang kesenian    daerah sunda, salah satunya adalah Karawitan Sunda.
Karawitan Sunda memiliki cirri-ciri tersendiri, demikian pula dalam pertumbuhan dan perkembangannya sangat dilatarblakangi olh keberadaan manusia Sunda itu sendiri. Memang istilah karawitan  dalam bahasa Sunda dapat dikatakan sebagai bentukan baru. Meskipun demikian, pemakaiannya cepat sekali meluas, sehinga istilah ini tidaklah dianggap sebagai sesuatu yang asing.
Ada sebuah pendapat yang menyebukan, istilah karawitan  dibentuk dari kata asal rawit, lalu dibubuhi imbuhan ka-an. Kata rawit itu sendiri, biasa dihubungkan dengan salah satu jenis cabe, maka jadilah cabe rawit, yaitu cabe yang bentuknya kecil, warnanya indah, dan rasanya sangat pedas.
Timbul pertanyaan, apa hubungannya cabe (kecil, indah, dan pedas) dengan salah stu kesenian? Memang agak sulit ditelusuri seara pasti, namun diduga antara kedua hal tersebut mempunyai salah satu persamaan yaitu dalam segi keindahannya. Sebab, sebagai sebuah krya seni, karawitan memiliki keindahan yaitu dalam suara ang dihasilkannya. Tapi yang jelas, pada bahasa sunda istilah karawitan diartikan sebagai seni suara yang memiliki cirri atau unsure tradisi daerah. Orang sunda menggunakan istilah karawitan untuk jenis kesenian degung, cianjuran, celempungan, calung, dan berbagai jenis suara lainnya yang mmilikki cirri tradisi sunda. Ciri ini dititik beratkan pada penggunaan laras pelog dan salendro.
Jadi, dapat ditarik kesimpulan, bahwa yang dimaksud dengan karawitan yaitu seni suara manusia dan atau bunyi waditra yang sesuai dengan  (berdasarkan pada) tradisi daerah.

B.     Media karawitan.
Media yang digunakan dalam karwitan adalah suara. Suara. yang dimaksud adalah suara yang bersumber dari manusia dan suara dari waditra yang dimainkan.
Suara yang dihasilkan tersebut mestilah memenuhi syarat  sebagai ungkapan musical, maksudnya sesuatu ayng mempunyai arti yang proses pengolahannya berdasarkan kaidah-kaidah music. Yang termasuk dalam kaidah-kaidah music ini ialah adanya unsure nada, ritme, harmonisasi, keseimbangan, dan unsur lainnya.
Di dalam istilah suara ada yang disebut nada dan desah. Nada adalah suara yang berirama sedangkan desah  adalah suara yang tidak berirama. Suara dibagi menjadi 2, yaitu suara ultrasonic dan suara infrasonic. Suara ultrasonic adalah suara yang tidak bisa terdengar karena terlalu tinggi dan suara infrasonic adalah suarayang tidak bisa terdengar karena terlalu rendah.
Nada diatur sedemikian rupa sehingga menjadi laras. Yang dimaksud laras ialah deretan nada-nada, baik turun maupun naik, yang disusun dalam satu  gembyang (oktav) dengan swarantara (interval) yang telah di tentukan. Dalam karawitan Sunda dikenal 2 laras pokok; yaitu pelog dan salendro. Laras pelog terbagi menjadi 3 surupan. Yaitu surupan jawar, surupan Liwung dan surupan sorog. Laras salendro terbagi menjadi;
a)      Degung
Laras degung terbagi menjadi 2, yaitu Dwi swara dan tri swara.
b)      Madenda
Laras Madenda terdiri dari beberapa ukuran surupan. Ukuran surupan dalam istilah music dikenal dengan istilah nada dasar. Ukuran surupan madenda adalah Medenda 4 (ti) = Panelu dan 4 (ti) = Tugu.
c)      Mandalungan



Dalam karawitan pun dikenal istilah titi laras. Titi laras identik dengan tangga nada. Titi laras adalah deretan/susunan  nada-nada. Biasanya menggunakan lambing/ notasi. Macam-macam notasi diantaranya:
·         Not angka
1.      Solmisasi
2.      Da mi na
3.      Rapatinan
·         Not balok
1.      Pamanyu
2.      Primapista
·         Not huruf
1.      Ding dong
2.      Tugu, singgul, galimber
·         Not rantai
·         Not kata.

C.     Fungsi karawitan
a)      Ritual
Maksudnya adalah, dalam bentuk penyajian mempunyai maksu dan tujuan keyakinan. Adanya kepercayaan pada sebagian masyarakat Jawa Barat yang tercermin dalam berbagai upacara yang bersifat ritual,  sebagian besar selalu berkaitan dengan kesenian, seperti tarian-tarian upacara penghormatan, persembahan, dan selamatan. Contoh karawitan yang berfungsi sebagai ritual yaitu Tarawangsa, Angklung Sered, Seni helaran, pementasan wayang golek pada acara ruwatan, dan lain-lain. 
b)      Spiritual
Maksudnya adlah dalam bentuk penyajiannya harus berdasarkan rasa (kalangenan) untuk diri sendiri. Seni merupakan sebuah ekspresi, yaitu ungkapan perasaan dan jiwa seseorang. Di dalam karawitan, perasaan seperti gembira, sedih, marah, cinta, sering diungkapkan dalam berbagai bentuk. Yang paling terlihat apabila kita memperhatikan syair sebuah lagu.


c)      Festival
Karawitan juga bisa berfungsi sebagai festival. Artinya, dalam bentuk penyajiannya tidak mengarah pada rumpun. Misalnya Pasanggiri dan Binojatrama.

d)     Komersil
Seiring dengan kemajuan zaman, kedudukan karawitan sudah sejajar dengan jenis kesenian lainnya. Tentunya hal ini mempengaruhi pula terhadap segi-segi kehidupan senimannya sendiri, khususnya dalam jaminan materi.

e)      Hiburan
Karawitan berfungsi sebagai hiburan artinya, dengan bermain atau mendengarkan karawitan, seseorang dapat terhibur dan tumbuh perasaan senang dalam hatinya. Jenis-jenis karawitan yang mengandnung unsur hiburan antara lain; Kliningan, Degung Kawih, Jaipongan, Ketuk Tilu, Calung, Reog, Bangreng, Wayang Bodoran, Longser.

D.    Penyajian
Dalam penyajiannya ada yang brsifat individu dan bersifat group (bersama). Misalnya karawitan sekar (penyajian oleh suara manusia), karawitan gending (penyajian oleh waditra), karawitan sekar gending (penyjian oleh suara manusia dan waditra).

E.     Bentuk

 Bentuk penyajian karawitan diantaranya ; karawitan sekar (penyajian oleh suara manusia), karawitan gending (penyajian oleh waditra), karawitan sekar gending (penyjian oleh suara manusia dan waditra).

F.      Sumber bunyi
·         Membranofon (waditra yang sumber bunyi dari kulit)
·         Aerofon (waditra yang sumber bunyi dari udara)
·         Kordofon (waditra yang sumber bunyi dari dawai)
·         Elektrofon (waditra yang sumber bunyi menggunakan listrik)
·         Idiofon (waditra yang sumber bunyi dari alat itu sendiri)

G.    Cara memainkan
·         Dipukul ( kendang, perkusi, dll)
·         Digesek (rebab, biola, dll)
·          Dipetik (kecapi, gitar, dll)
·         Ditiup (suling, terompet, dll)
·         Digoyang (angklung)